Jumat, 22 Oktober 2010

Ku Kan Tegar


 (Sequel Tegarku Karenamu)

Kuku berguguk, melonjak-lonjak tak tentu arah. Sesekali melenguh kemudian berguguk lagi. Ki tersentak dari lamunannya mengamati perilaku aneh Kuku. Ki terkesiap menatap sosok di depannya. Mata sipit berkacamata tipis itu tersenyum. Hangat. Ki diam tak tahu harus berbuat apa. Ingin rasa mendekap melepaskan penat penantian. Tapi Ki hanya diam terpaku menatap sosok bermata tipis berkacamata tipis itu. Sebuah bulir jatuh di pipi Ki, jatuh dan mengalir. Ki hanya bisa memandang mencoba menggapai tapi ia perlahan menjauh. Walaupun tersenyum, tergurat satu kesedihan di matanya. Mata itu ingin berkata :

~Koko harus pergi Ki, walaupun sebenarnya sangat ingin selalu bersamamu~

Ki terduduk di hamparan pasir dengan tangan masih menggapai. Kepalanya terkulai menunduk menahan kegalauan hati.

Kuku melenguh. Pelan sekali. Sepertinya galau itu juga yang dirasakannya. Kehilangan yang juga dirasakannya. Takkan ada lagi penantian. Koko telah datang untuk kembali pergi.

~Selamat jalan, Koko. Kami menyayangimu~



Adakah kesedihan tak terkira selain kehilangan orang yang di hati?

Tak ada lagi yang menemani, tak ada lagi yang menyemangati?

Ikatan tulus kenapa harus pergi

Tak bolehkah aku menikmati

Sekejap sudah kurasakan indahnya persahabatan

Untaian senyum tlah kudapatkan

Beribu rangkaian kata telah menjadi makna

Tak kusesali semua ini terjadi

Karena kusempat rasakan bahagia

Walaupun tak selama yang kuingin

Tapi selamanya kan kuingat

Kita pernah bersama...












Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...